DURI (Riaulantang) – Mantan Kapuspen TNI, Mayjen (Purn) M Fuad Basya mengungkapkan kekhawatirannya melihat gejala makin rapuhnya rasa kesatuan dan persatuan diantara sesama anak bangsa pada saat ini. Hal itu diungkapkannya saat berada di Duri, Selasa (24/10/17).

Menurut jendral jebolan AKABRI 1981 ini, segenap anak bangsa harus bisa melihat dan memikirkan nasib bangsa yang besar ini untuk ke depannya. Pasalnya, pada saat ini, kata Fuad, kondisi persatuan dan kesadaran nasional di kalangan anak bangsa semakin menurun. Satu sama lain terjebak dalam suasana perpecahan. “Maka satu hal paling utama yang harus diprioritaskan adalah membina kembali persatuan dan kesatuan antar sesama anak bangsa yang semakin memudar itu,” tegasnya.


Jendral bintang dua yang pensiun sejak Agustus 2015 ini juga menyebut bahwa saat ini Indonesia berada pada kondisi yang amat merisaukan hati. “Sekarang ini Indonesia tengah menghadapi konspirasi besar yang bertujuan untuk melemahkan bangsa ini. Konspirasi itu datang dari luar. Agenda utama mereka adalah bagaimana menjadikan Indonesia tetap sebagai bangsa konsumen buat selamanya. Agenda itu sudah dirancang sejak lama,” imbuhnya.

Konspirasi seperti itu menurut Fuad sangat beralasan. Pasalnya, Indonesia memiliki segala-galanya. Daerah luas dan subur, penduduk dan SDM banyak, laut juga terbentang luas, kekayaan alam pun melimpah ruah, dan disinari matahari pula selama 12 jam sehari. “Dibanding negara lain, Indonesialah satu-satunya negara di dunia yang memiliki sagalanya. Negara lain ada yang kaya tapi buminya tak subur,” ujar lelaki yang juga dipercaya anak kemenakannya di Bukittinggi menjadi penghulu dengan gelar kebesaran Dt Tunaro ini.

Mengingat potensi besar itu, Fuad mengajak segenap komponen anak bangsa untuk membina kembali persatuan dan kesatuan yang telah terusik. Anak bangsa ini harus sadar bahwa perpecahan dan adu domba antar sesama hanya akan merugikan bangsa yang besar ini. Dia mengingatkan setiap anak bangsa untuk menyadari kembali bahwa kita semua adalah satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa seperti telah diikrarkan bersama dalam Sumpah Pemuda tahun 1928 silam.

“Kita harus kembali kesana (semangat Sumpah Pemuda). Semangat persatuan itu harus dibangkitkan. Kalau kita bersatu dan bangsa ini bisa mengatasi berbagai perbedaan yang ada, saya yakin Indonesia akan maju dan tidak akan jadi bangsa konsumen buat selamanya. Kalau kita bersatu padu maka predikat adil dan makmur itu akan menjelma,” kata jendral purnawirawan kelahiran Bukittinggi 7 Agustus 1957 ini.(dan)