DURI (Riaulantang)– Aksi unjuk rasa di Rantau Kopar, Kabupaten Rokan Hilir, telah berdampak terhadap pasokan air ke wilayah Duri dan sekitarnya. Dalam aksi yang berlangsung sejak Selasa (19/7) itu telah terjadi penghentian secara paksa operasional fasilitas pengolahan air (Water Treating Plant/ WTP) Rangau yang dikelola PT. Chevron Pacific Indonesia (PT CPI).

Terkait terganggunya pasokan air untuk warga Duri dan sekitarnya ini, PT CPI melalui  Sukamto Tamrin, General Manager Government Affairs and Operations Support (GA&OS) PT CPI yang dihubungi Riaulantang.com, Jumat (22/09/17) menyatakan sangat menyayangkan penghentian secara paksa operasional WTP Rangau tentu tersebut. 

WTP Rangau merupakan fasilitas negara yang digunakan untuk mendukung kegiatan hulu migas di Blok Rokan yang merupakan obyek vital nasional (obvitnas). Fasilitas tersebut juga menjadi sumber Utama pasokan kebutuhan air bersih bagi masyarakat Duri, Bengkalis, dan sekitarnya melalui PDAM setempat. 

“PT CPI menghormati hak setiap warga negara dan kelompok masyarakat untuk mengekspresikan pendapat dan menyampaikan aspirasinya, sepanjang dilakukan secara tertib dan damai, serta menghargai hak orang lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku. PT CPI juga terbuka untuk melakukan diskusi sepanjang dilakukan dalam kondisi yang kondusif dan tanpa tekanan dari pihak manapun,” tutur Sukamto.

Dijelaskan Sukamto fokus utama PT CPI saat ini adalah memastikan keselamatan manusia dan lingkungan di sekitar wilayah operasi. Termasuk meminimalisasi dampak aksi unjuk rasa terhadap operasi hulu migas.

“Hendaknya penyaluran aspirasi harus diupayakan tidak mengganggu kegiatan operasi hulu migas yang berkontribusi terhadap pendapatan negara dan daerah,” jelasnya. (susi)