BENGKALIS (Riaulantang) – Malam 27 Ramadhan atau disebut dengan malam tujuh likur merupakan malam yang dirindukan bagi masyarakat Kabupaten Bengkalis, dimana pada malam tersebut masyarakat melihat kembali tradisi tahunan yaitu lampu colok dengan berbagai miniatur yang kreatif dibuat oleh pemuda dari daerahnya masing-masing.Hal itu membuat pemuda pedekik khususnya pemuda dusun III pedekik darat termotivasi ambil bagian dalam upaya melestarikan budaya tersebut. Sehigga tahun ini Desa Pedekik sebagai salah satu objek kampung colok.

Meskipun suasana bulan suci Ramadhan, namun semangat para pemuda tidak pernah luntur, siang dan malam mereka bergelut dengan miniatur, demi mempertahankan tradisi lampu colok supaya tidak dimakan zaman.

“Alhamdulillah berkat hasil kerjasama kita semua siang dan malam, akhirnya menghasilkan kebahagian yang luar biasa yang dapat kita rasakan bersama, kita optimis memberikan penampilan terbaik untuk Desa kita, kami juga merangkul para remaja supaya genarasi ini tau dengan budayanya sendiri,” kata Ketua Pemuda Dusun III Pedekik Muhammad Akib, 31 Mei 2019 malam.

Akib juga mengucapkan terima kasih kepada semua rekan sejawat dan masyarakat yang sudah berloyalitas terhadap lampu colok ini. “Semoga ini menjadi amal soleh untuk kita semua,” ujanya.

Akib juga menyebut selain dalam upaya melesatarikan budaya, festival lampu colok ini juga sebagai ajang melatih diri agar terbiasa dengan hidup bergotong royong dan bekerjasama.(dwi)