budidaya cabe di Jalan Balam, Air Jamban Duri

DURI (Riaulantang)- “Tak ada yang tak mungkin jika dikerjakan sungguh-sungguh dan dengan hati” demikian di tekadkan Rikun Ketua RT 3 R W 18, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau. Bermodal lahan kosong setengah hektar milik warga yang ada disamping rumahnya, Rikun berhasil membudidayakan tanaman cabe merah. Sekali panen, Rikun dan istri bisa mendapatkan hasil hingga 70 kilogram.

“Ini dulu tanah kosong yang belum digarap. Kami pinjam pakai ke pemiliknya. Luasnya hanya sekitar setengah hektar. Alhamdulillah setelah kami tanam cabe hasilnya cukup baik. Panen pertama mencapai 70 kilo. Ternyata tak ada yang tak mungkin jika dikerjakan sungguh-sungguh,” ujar Rikun di ladang cabenya Jalan Balam, tak berapa jauh dari kantor Kelurahan Air Jamban Duri, Sabtu (07/07/18).

Dijelaskannya, tak ada yang menyangka jika kebun cabenya yang berada di tengah kota ini bakal mendatangkan hasil yang cukup baik. Di tengah lalu lalang warga yang sibuk mengurus PSB ke SMAN 9 Mandau, Rikun, istri dan keluarganya malah sibuk memanen cabe yang sudah 7 kali panen sejak ditanam 4 bulan lalu.

“Bibit awal kami dapat dari adik sekitar 1.500 batang. Ternyata bisa berkembang disini. Kami panen 2 atau 3 hari sekali. Hasilnya cukup baik. Cabenya panjang-panjang tak kalah dengan kualitas cabe mudik (Sumbar-red),” jelasnya.

Dengan hasil yang sudah diperolehnya itu, Rikun dan keluarga amat bersyukur. Kini da dan keluarga punya penghasilan tambahan. Warga sekitar pun sudah mulai mengetahui ladangnya dan bertransaksi di ladang itu.

“Biasanya kami jual ke toke. Tapi karena sudah banyak yang tahu dan datang ke sini, akhirnya habis disini saja. Malah kadang tak cukup. Untuk tetangga sini kami jual Rp 20 ribu per kilo,” ujarnya lagi.
Kendati hasil panen masih belum optimal, tapi Rikun optimis kebun cabenya akan memberikan penghasilan. Ini melihat perkembangan cabenya yang cukup subur dan bunga yang mulai berkembang lagi.

” Diperkirakan bulan Agustus nanti akan panen puncak. Ini kami jaga terus karena rawan pencurian. Tidur pun terpaksa ngungsi di gubuk ini,” jelas Rikun yang membuat gubuk kecil di ujung kebun cabenya.
Melihat perkembangan cabe merah yang bisa tumbuh dan berkembang di daerah itu, Rikun pun mulai merambah ke budidaya cabe rawit. Saat itu ratusan tanaman cabe rawit sudah mulai pula berkembang di lahan itu.

“Kami sudah mulai menanam cabe rawit juga. Namun ini harus di jaga karena menanam cabe ibarat menjaga anak kecil. Dua kali sehari harus disiram,” tambah istri Rikun.(susi)