DURI (Riaulantang) – Hutan Suaka Margasatwa Balai Raja Duri yang hanya tinggal status, terkesan bebas untuk digarap. Warga sesuka hati membuka lahan perkebunan, bahkan dengan cara membakar. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan cara seperti itu, kendati akan berdampak terhadap habitat Gajah yang diketahui tinggal beberapa ekor di SM Balai Raja Duri itu.
Kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar itu diungkap Ketua Himpunan Penggiat Alam Mandau (Hipam), Rendi. Kepada Riaulantang.com, Senin (22/07/19), Rendi mengungkapkan kebiasaan buruk warga yang membuka lahan dengan cara membakar itu.
“Kami memantau pergerakan gajah di kawasan ini. Miris rasanya melihat hutan yang terbakar sekitar 2 hektar Minggu kemaren. Makanya saat kami melihat ada warga yang membakar lahan kami coba ingatkan. Bukannya didengar kami malah di tentang ” ujar Rendi.
Disampaikannya, perlawanan warga saat diingatkan itu tentu saja membuat mereka geram. Namun mereka tak mau ribut dan meninggalkan warga itu.
“Kita ingatkan tapi malah di tentang. Kalau pihak terkait perlu bukti poto dan video kita ada,”ungkapnya.
Menurutnya, cara membakar lahan diseputar habitat Gajah sudah sering terjadi. Padahal, lahan untuk Gajah bernaung sudah semakin sempit, perlu perhatian serius dari semua pihak.
“Cuma tinggal sedikit lahan tempat Gajah bermain, itupun sudah terbakar beberapa titik. Kita hanya ingin Gajah di SM Balai Raja Duri ini tidak punah dan tidak ada kepentingan lain. Mohon pihak terkait bisa menindak karena oknum warga tersebut berkata tidak takut dipenjara,”tuturnya.
Pihaknya kata Rendi, selain memantau pergerakan Gajah, juga terus melakukan himbauan pada warga sekitar untuk tidak membakar lahan.
“Selain memantau Gajah, kita juga lakukan pencegahan terhadap orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membakar lahan,”pungkasnya.(bambang)





























