DURI (Riaulantang) – Terminal AKAP Duri di Simpang Lima Desa Petani Kecamatan Mandau tak kunjung difungsikan. Bangunan itu kini terbiar. Kesan mubazir pun sulit ditepis.

Saat berkunjung ke terminal tersebut Rabu  (07/11/2017) langsung mencuat kesan memprihatinkan. Kondisi bangunan megah yang didirikan di zaman Bupati H Syamsurizal itu tampaknya tidak mendapat perawatan yang pantas.

Begitu menapakkan kaki di komplek bangunan yang menghabiskan dana APBD Bengkalis puluhan miliar rupiah itu kita langsung dihadapkan pada pemandangan cukup miris. Dua pintu gerbang masuk dihalangi pakai batang akasia yang sudah mengering daun-daunnya.

Loket yang ada di kedua gerbang depan terminal itu pun tak elok dilihat. Kacanya sudah pecah-pecah. Sampah juga berserak. Lampu-lampu taman pun tak selamat lagi.

Dari jauh terlihat pula, kanopi di puncak bangunan yang sudah lepas. Kondisi di dalam gedung utama pun tak kalah memprihatinkan. Lantainya lecah karena air. Juga kotor. Baik di lantai dasar maupun di lantai atas. Mayoritas ruangan terbuat dari kaca. Satu dua diantaranya pecah. Di lantai atas juga terlihat daun pintu yang sudah hancur.

Beragam sampah pun terlihat di dalam gedung itu. Mulai dari bungkus rokok, botol minuman, plastik bungkus aneka snack dan makanan ringan. Juga ada kartu remi. Malah di tangga menuju lantai atas terlihat pula ada kardus. Mungkin digunakan untuk duduk-duduk atau beristirahat dan tiduran.

Di bagian paling belakang komplek terminal juga ada bangunan musala. Cukup besar. Tapi kondisinya tak kalah menyedihkan. Pintu samping kupak. Didalamnya terlihat pula sampah berserak. Bekas kabel instalasi listrik yang mungkin diambuk dari bangunan induk terminal ataupun halte penumpang. Juga tergeletak di dalam musala itu bekas lem cap kambing. Masih berisi. Bisa jadi ada yang mengisap lem itu di musala yang belum pernah dipakai ini. 

WC musala juga sangat merisau. Ada onggokan tahi manusia yang sudah mengering. Tak ada air disana.

Halte penumpang masih terlihat cukup kokoh. Deretan kursi penumpang pun masih utuh. Hanya saja lampu di loteng bangunan dan instalasi listriknya sudah banyak yang copot.

“Kami warga disini tentu saja berharap terminal ini segara bisa difungsikan. Kalau ramai, tentu kami bisa pula menumpang hidup,” kata Miskun (55). yang berjualan di seberang jalan di depan terminal besar tersebut.

Dikatakan Miskun musala di belakang terminal yang tak terawat itu memang belum pernah digunakan. Soalnya di depan terminal ada Masjid Agung Baitul Maqdis.

Masih kata dia, ada empat orang yang diberi kepercayaan untuk menjaga gedung ini. Juga ada yang bertugas memangkas semak di sekitar komplek terminal.

Miskun juga bertutur tentang cukup ramai yang datang ke bangunan terminal AKAP ini. “Banyak anak-anak muda yang datang ke terminal itu. Mereka sering mangkal disana. Malam minggu lebih ramai. Malam biasa juga cukup banyak yang datang. Malah ada yang tidur disana sampai pagi,” tambahnya.

Apakah bangunan terminal ini sering dipakai untuk mengkonsumsi Narkoba? Miskun mengaku tak tahu persis. Bisa jadi saja ada. Tapi dia tak berani memastikan itu. Kan harus bicara pakai bukti, katanya. “Kalau yang berbuat mesum, sampai saat ini belum ada terdengar disitu,” pungkas Miskun.(susi)