DURI (Riaulantang) – Rencana pembangunan pabrik tepung tapioka terpadu di atas lahan seluas 70 hektare di Desa Air Kulim Kecamatan Mandau (kini masuk wilayah Kecamatan Bathin Solapan) Kabupaten Bengkalis tampaknya bakal terealisasi dalam waktu dekat.

Pasalnya, investor Malaysia yakni Monetization of Global Sharing Benefit (MGSB) Berhad sudah menyatakan sangat tertarik untuk menanamkan modalnya dalam pembangunan pabrik tapioka berkapasitas olah 1.000 ton per hari tersebut.

Malah pada Jumat (11/8) baru lalu, Director MGSB Dato Seri Zulfahmi bin Munir bersama stafnya Razak Ahmad (Marketing Branding & Advisor MGSB) langsung turun meninjau lokasi rencana pabrik tersebut di Desa Air Kulim. Mereka didampingi oleh Manajer PT Berkah Cassava Indonesia Makmur, H Arwan Mahidin dan rekan. Sang investor juga diajak turun meninjau hamparan kebun singkong masyarakat di Kelurahan Balai Raja Kecamatan Pinggir.

“Saya sudah tiga kali berkomunikasi langsung dengan Director MGSB Dato Seri Zulfahmi. Beliau pun sudah turun meninjau dan menyatakan sangat tertarik untuk menanamkan modal. Pasalnya, pabrik tapioka yang kita rencanakan terpadu dengan pengolahan biogas, pakan ternak, serta peternakan sapi dan pengolahan pupuk organik. Pabrik terpadu ini akan menerapkan zero waste management. Konsep inilah yang sangat menarik bagi MGSB,” tutur Dirut PT Berkah Cassava Indonesia Makmur (BCIM), Drs H Hasan Basri MSi pada Riau Lantang, Sabtu (12/8).

Hasan berkeyakinan, pabrik tapioka terpadu yang sudah lama diidam-idamkan itu bakal terealisasi dalam waktu tak terlalu lama lagi. “Rencananya, akhir Agustus ini kita akan presentasi di hadapan investor MGSB di Malaysia. Sekaligus penandatanganan MoU investasi senilai lebih kurang Rp 500 miliar,” ungkapnya.

Hasan sangat yakin pabrik tapioka itu nanti bakal menggairahkan perekonomian di daerah ini. Sebab pabrik berkapasitas olah 1.000 ton per hari itu membutuhkan panen singkong seluas 20 hektare per hari atau 7.000 hektare per tahun. Kebun singkong pendukung pabrik, menurutnya, akan tersebar di Kabupaten Bengkalis, Rohil, Rohul, Dumai, Siak, dan Pekanbaru. Sementara itu, izin prinsip bupati Bengkalis untuk pembangunan pabrik tersebut sudah ada. Sedang izin lokasi, UKL dan UPL-nya masih dalam proses.

“Kalau pabriknya beroperasi nanti akan menghasilkan limbah berupa ampas atau onggok 100 ton per hari. Itu akan diolah menjadi pakan ternak dan bisa menghidupi 10.000 ekor sapi. Juga untuk biogas serta pupuk organik. Ekonomi ribuan KK petani dan peternak di daerah ini pun akan sangat bergairah. Salah satu kebijakan kita, tanah tetap milik petani. Tidak akan dibeli. Mereka kita jadikan mitra sejajar. Pengolahan lahan, penyediaan bibit singkong, serta pupuk akan kita bantu. Setelah panen baru dibayar petani,” imbuh Hasan lagi.(susi)