DURI (Riaulantang)- Sikap sinis ditunjukkan sejumlah orang, saat dua bocah datang menenteng ember kecil yang disorong ke pengunjung sebuah kedai kopi di seputuran Jalan Sudirman Duri, Rabu siang (11/12/19) tadi. Sikap sinis ini agaknya mewakili perasaan pengunjung yang merasa terganggu dengan kehadiran bocah peminta ini. Mereka agaknya menyamaratakan peminta yang datang dan pergi ke kedai kopi itu.
Tapi ternyata dua bocah ini memiliki kisah beda. Saat Riaulantang.com mengajak duduk dan bincang sejenak, kedua bocah ini mengaku masih sekolah. Mereka baru pulang ujian dan langsung menjalani rutinitas “menenteng ember kecil”nya.
“Masih sekolah, tadi ujian tema III. Siap itu langsung jalan,” ujar Putra (bukan nama sebenarnya-red) memulai kisah perjuangannya.
Dikatakannya menjadi bocah peminta bukan pilihannya, dia hanya ingin membantu ibunya yang hanya buruh cuci gosok di rumahnya. Uang hasil meminta diserahkan ke ibunya untuk biaya hidup sehari-hari.
“Tak dipaksa. Keinginan sendiri membantu ibu. Ibu tukang cuci
Bapak tak ada lagi. Dia meninggalkan kami,” ujarnya menyampaikan kisah perceraian bapaknya.
Kasihan melihat derita ibu dan adiknya, akhirnya dia memilih menjadi bocah peminta. Mengorbankan waktu bermainnya, berjalan keluar masuk ruko. Sepanjang jalan Sudirman hingga Jalan Hang Tuah Duri sudah dijalaninya.
“Kadang dapat Rp 50 ribu kadang Rp 70 ribu. Pernah sampai jam 9 malam Makannya kadang pulang ke rumah,” kisahnya lagi.
Apakah tak takut dengan resiko di Jalan, Bocah yang cukup santun ini menjawab takut. Tapi terpaksa di jalani. Makanya dia membawa serta saudaranya Adi (bukan nama sebenarnya) yang masih duduk di kelas 1 SD. Bocah kecil yang banyak diam ini mengaku yatim ditinggal ayahnya.
“Dia saudara saja. Kami jalan berdua. Kadang saya di kasi dia tidak,” cerita Putra lagi.
Saat ditawari minum keduanya tak menolak karena dahaga. Namun sikap santun tetap ditunjukkannya. “Terserah ibu saja,” ujarnya sembari mengiyakan pesanan teh es bungkus untuk keduanya.
Melihat kepolosan dan kegigihan dua bocah ini agaknya menjadi pembelajaran bagi semua untuk tidak memandang hina orang yang datang meminta. Mereka punya alasan sendiri untuk melakoni hidupnya. Jangan pula kita yang menjadi hakimnya. (susi)





























