BENGKALIS (Riaulantang)- Sejak mewabahnya virus Covid 19, warga kabupaten Bengkalis khususnya yang berada di pulau Bengkalis yang terdiri dari dua kecamatan yakni kecamatan Bengkalis dan kecamatan Bantan, harus gigit jari. Pasalnya tradisi Bara”an yang sudah menjadi bagian yang terpisahkan dari setiap perayaan Idul Fitri harus ditiadakan.
Bara”an atau rombongan sendiri adalah ajang silaturrahmi massal yang dilaksanakan oleh masyarakat dalam satu kampung. Bisa kumpulan dari satu RW (rukun warga) maupun lebih dari satu RW. Tak heran jika jumlah warga yang ikut Barak’an terkadang mencapai ratusan.
Rombongan atau Bara’an ini akan mendatangi setiap rumah yang ada di lingkungan RW masing- masing. Dan tuan rumahpun menghidangkan makanan ‘ berbau’ lebaran, seperti ketupat lengkap dengan makanan pendampingnya gulai daging sapi ataupun gulai kambing. Tak jarang pula ada tuan rumah yang menyiapkan makanan khusus untuk menjamu rombongan yang datang.
Tak hanya untuk bersilaturahmi saling bermaaf-maafan dan menyantap makanan, setiap memasuki rumah warga, rombongan terlebih dahulu akan berdoa bersama mengucap Syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah, bisa menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh. Tak lupa pula doa untuk keselamatan, kesehatan untuk tuan rumah khususnya dan peserta Barak’an umumnya.
Kendati tradisi ini cukup melelahkan karena harus masuk ke setiap rumah, bahkan lelah sangat kekenyangan, karena harus mencicipi makanan yang dihidangkan tuan rumah dari setiap rumah yang dimasuki, namun Baraa’an menjadi kebahagian tersendiri bagi warga. Disamping ajang berkumpul dan bersenda gurau sesama warga, yang mungkin pada hari- hari biasa jarang bisa dilakukan karena kesibukan masing- masing, Bara’an ini juga manjalin hubungan Ukhuwah Islamiyah sesama warga.
Kegiatan Bara’an ini terutama di kampung- kampung terkadang belangsung satu minggu karena banyaknya rumah yang harus dimasuki. Suasana lebaran benar-benar terasa.
Namun sejak pandemi Covid 19, pemerintah kabupaten Bengkalis mengeluarkan himbauan agar kegiatan yang berlangsung turun temurun sejak dulu tersebut ditiadakan. Karena dikhawatirkan akan menimbulan klaster- klaster baru virus Covid 19.
Kecewa memang karena tidak dapat bersilaturrahmi secara berombongan, namun warga harus patuh akan himbauan pemerintah, mengingat dampaknya yang akan ditimbulkan.
“Sedih memang, sudah dua tahun kita tak buat Bara’an. Tapi mau macam mana lagi, kondisi seperti ini (covid-red). Kalau ada Bara”an kita dapat mengunjungi semua rumah untuk bermaafan. Sementara kalau datang sendiri-sendiri ke rumah-rumah masyarakat agak terasa berat. Paling hanya bisa ke rumah kerabat,” ujar salah seorang warga kecamatan Bantan Kosim saat dihubungi Kamis (13/5).
Menurutnya tradisi Bara’an banyak sisi positifnya, tak hanya bisa bersilaturrahmi ke semua warga satu RW, makan bersama, namun juga terselip doa yang dilantunkan di setiap rumah yang dikunjungi.
“Lebaran di kampung, Bara’an itulah ciri khasnya. Sekarang Bara’an dilarang karena dikhawatirkan akan menimbulkan klaster baru penyebaran covid 19. Kita masyarakat hanya bisa mengikuti saran dari pemerintah, walaupun sebenarnya kecewa juga. Lebaran terasa sepi, tak nampak lagi keramaian warga yang menunjungi rumah-rumah warga. Semoga pandemi covid 19 ini cepat berakhir, tradisi ini bisa berjalan lagi. Karena memang ini yang menggembirakan dan menyemangati kita menyambut lebaran di kampung,” ulas Kosim lagi.
Kebanyakan kampung- kampung mentaati himbauan pemerintah kabupaten Bengkalis untuk tidak menyelenggaralan Barak’an. Namun di beberapa kawasan yang termasuk zona hijau covid 19, tetap melaksanakan Barak’an, namun jumlahnya dibatasi, hanya dilaksanakan di beberapa rumah saja.
Dan tentu protokol kesehatan tetap mereka jalankan, seperti memakai masker dan mencuci tangan setelah mereka bersalaman saat bermaaf-maafan.
“Di tempat kami Barak’an tetap ada, tapi tak macam tahun-tahun sebelumnya. Jumlah yang ikut hanya sedikit. Dari pada tak buat ajalah. Sepi betol rasanya lebaran tak ada Barak’an,” ujar warga Bantan lainnya Samen yang di daerahnya termasuk zona hijau.
Bara”an Tradisi Turun Temurun
Bara’an adalah nama yang disematkan pada tradisi turun temurun itu. Tradisi yang tak pernah lekang oleh waktu, dijaga dari generasi ke generasi hingga kini.
Tradisi itu barangkali yang membuat setiap perantau ingin kembali pulang ke Pulau Bengkalis setiap lebaran tiba. Tradisi yang melekat erat dan merekat tali persaudaraan antar sesama.
Secara harfiah, Bara’an mirip dengan halal Bihalal yang jamak dilakukan masyarakat Nusantara. Tapi di Bengkalis, Bara’an dilakukan, begitu juga halal bihalal. Tentu waktunya berbeda. Bara’an biasa dilakukan sejak satu Syawal. Di beberapa tempat, Bara’an yang juga punya sebutan lain sebagai “rombongan” itu dilakukan hingga sepekan lamanya.
Lantas apa itu Bara’an?. Secara rinci tidak ada penjelasan makna Bara’an tersebut. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia juga tidak ditemukan makna kata itu.
Akan tetapi, menurut salah seorang masyarakat yang lahir dan besar di Pulau Bengkalis, Mursin, bara’an adalah kegiatan sekelompok orang yang berada di satu lingkungan dusun, RW atau RT yang sama dan saling mengunjungi secara bersamaan pula.
Mursin yang tinggal di pelosok Bengkalis ini mengatakan tradisi ini mengharuskan masyarakat secara bersamaan, baik tua, muda, pria, wanita mengunjungi satu persatu rumah. Mereka saling bermaafan dan mendoakan. Mencicipi hidangan yang pasti disediakan.
Para perantau yang lahir dan besar di Bengkalis pasti akan merindukan momen Bara’an itu. Magnet kebersamaan yang sulit untuk dilupakan. Dan jelas tidak ditemukan di daerah lainnya. Yang barangkali hanya satu-satunya di Indonesia.
Momen itu secara tidak langsung menjaga tali persaudaraan dan kebersamaan antar warga terus terjaga erat. Baik di Kota maupun desa terpencil di Pulau Bengkalis, sama-sama secara sukarela dan bahagia melaksanakannya. (Evi)






























