DURI (Riaulantang)- Ini bukan bangunan kuno peninggalan sejarah masa lalu. Walau bentuknya mirip. Bangunan beton itu adalah stadion Duri. Dibangun sekitar tahun 2004 silam. Di zaman H Syamsurizal jadi bupati Bengkalis.

Hingga kini, bangunan stadion yang telah mengendapkan miliaran rupiah dana APBD Bengkalis itu terbiar begitu saja. Terbengkalai dan mubazir. Bangunan sepanjang lebih kurang 100 meter ini tak pernah rampung. Jadi tak bisa digunakan sesuai rencana

Stadion ini tersembunyi di ujungbm Jalan Stadion Kelurahan Air Jamban, Duri. Dikelilingi tanah konsesi Chevron. Tak ada pemukiman penduduk. Tak terlihat kedai di pinggir jalan. Yang ada hanya pipa minyak dan jalan lokasi. Juga power line Chevron. Di sebelahnya terhampar pula arena road race Duri. Juga mangkrak. Baru dibase saja. Tak ada aspal. Pun tak bisa digunakan untuk latihan balap.

Saat Riau Lantang mendatangi  komplek stadion ini Kamis (9/11/2017), kesan mubazir mencuat dari bangunan stadion itu. Halaman depan komplek semak. Rerumputan liar tumbuh dimana-mana. Juga becek oleh genangan air. Kesan tak dirawat pun mengemuka.

Dari jarak sekitar 100 meter, bangunan stadion itu terlihat kusam. Mirip betul dengan bangunan kuno. Tak terlihat ada orang di komplek ini. Juga tak ada pengunjung saat itu. Kosong melompong saja.

Lantai dasar bangunan stadion ditumbuhi semak. Sudah membelukar. Di antara balok-balok antar tiang di lantai dasar terlihat pula air menggenang. Tumbuhan semak betul-betul mendominasi disitu. Juga tampak banyak berudu di beberapa kolom genangan air di kerampang bangunan.

Pemandangan tak indah juga menanti di lantai dua. Tak terawat. Malah di beberapa bagian tampak becek dan ditumbuhi lumut yang mengerubuti lantai. Beragam tulisan tangan juga terpatri di tiang dan dinding.

Lantai tiga lebih lagi. Banyak tulisan tangan pengunjung dicoretkan di sana. Diyakini itu tulisan para remaja. Kalimat bernada porno pun mencuat. Tapi tak terlihat gambar porno. Diyakini bangunan mubazir ini sering dijadikan sebagai ajang berkumpul kalangan muda-mudi.

Kata orang-orang, lokasi stadion ini adalah tempat jin buang anak. Itu lantaran lokasinya jauh dari pemukiman. Juga ada yang menyebut, bangunan ini sebagai ajang latihan membuat anak bagi kalangan remaja atau pasangan tak sejenis lainnya.

Meski tak ditemukan jejak perbuatan mesum, tempat ini dipastikan sering dijadikan sebagai ajang mengisap lem. Buktinya, dijumpai banyak kemasan lem cap kambing di lantai dua dan tiga.

Bungkus rokok dan puntungnya juga banyak berserak di bangunan beton ini. Pun bekas botol minuman atau bekas kemasan makanan ringan lainnya. Juga ada kartu remi. Bekas bara dari pembakaran kayu juga terlihat disitu. Diduga digunakan pengunjung untuk mengusir dinginnya udara malam.

Pemandangan dari atas balkon juga tak indah. Terutama saat mata ditujukan ke halaman stadion. Yang tampak hanya rerumputan liar. Bukan hamparan rumput hijau seperti di lapangan bola sungguhan. Soalnya, bangunan ini mangkrak hingga kini sejak mulai dibangun sekitar 13 tahun silam.

Kanopi dari struktur baja yang menutup bagian tribun penonton di puncak stadion ini tampak masih baik. Cericit burung gereja yang bersarang di loteng kanopi mendominasi ruang telinga.

Saat mata ditolehkan ke bagian belakang stadion, terlihat pula potret nyata kemubaziran lain. Disana terhampar arena road race yang dibangun dengan dana miliaran rupiah di zaman H Herliyan Saleh jadi bupati Bengkalis. Track di arenanya baru setakat dibace. Belum diaspal hingga tak ada yang mau latihan balap di tempat sepi ini.

Mantan anggota DPRD Bengkalis periode 1999-2004, HM Darna, Kamis  mengaku, bangunan stadion mubazir itu dibangun mulai tahun anggaran 2004 silam.

“Kalau tak salah, dana untuk pembangunan awal stadion itu tahun 2004 sekitar Rp 4,2 miliar. Setelah saya tak lagi di dewan, ada beberapa kali penganggaran berikutnya. Tapi tak pernah tuntas. Malah sempat ditelantarkan. Padahal sudah dianggarkan lagi dana miliaran rupiah. Setelah digas baru dikerjakan lagi,” kata Darna.

Dia yakin proyek mangkrak ini sudah diaudit BPKP. Bagaimana hasilnya, Darna mengaku tak tahu. Yang jelas dia berharap, bangunan ini tidak dibiarkan menjadi bangunan mubazir. Sebab miliaran uang rakyat sudah digelontorkan untuk itu.(susi)