PINGGIR (Riaulantang)- Namanya dusun Bagan Benio. Kampung tertua di kabupaten Bengkalis ini menarik hati Bupati Kasmarni. Lokasinya jauh di ceruk terujung kabupaten Bengkalis.
Untuk mencapai kampung yang masuk dalam kawasan Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil itu harus melewati perjalanan darat dan sungai. Jarak 33 Km dari Simpang Sebanga Duri harus ditempuh hingga ke desa Tasik Serai. Setelah itu hamparan tasik dan Sungai Siak Kecil membentang luas dengan pemandangan yang eksotik. Perjalanan selama 1 jam perjalanan dengan perahu mesin, menjadi wisata bahari tak terlupakan dengan keindahan alam sepanjang aliran sungai.
Rindu akan masyarakat di Bagan Benio itu pulalah yang mengantarkan Bupati Kasmarni tiba di kampung tertua itu, Jumat siang (16/07/2021) tadi. Berangkat dari kediaman pribadinya di desa Muara Basung, Kasmarni membawa rombongan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah beserta Camat 4 Kecamatan serta sejumlah dinas/instansi lain. Kasmarni ingin perangkat daerahnya juga melihat langsung kondisi dusun dan masyarakat Bagan Benio hingga mereka bisa mencarikan solusi pembangunan bagi daerah yang berada di daerah penyangga cagar biosfer itu.

Jumat pagi sekitar pukul 06.30 Wib, Kasmarni sudah mengajak rombongannya untuk bergerak menuju Dusun yang dituju. Perjalanan darat melalui Jalan Gajah Mada bisa dipersingkat karena jalan yang dibangun dan diperbaiki di era kepemimpinan Bupati Amril Mukminin kondisinya sudah banyak yang diaspal dan hanya beberapa bagian yang dalam proses pengerasan.
Tiba di ujung jalan Km 33 desa Tasik Serai, rombongan harus memarkir kendaraan di antara rimbunnya pepohonan sawit. Bupati Kasmarni yang menjadi ketua rombongan, memimpin iringan menuju aliran sungai untuk menumpang perahu mesin (pompong-red). Tim BPBD Bengkalis sudah siaga dialiran sungai itu. Rombongan dibagi jaket pelampung sebelum naik pompong yang hanya bisa ditumpangi 3 atau 4 orang.

Kasmarni memberi jempol untuk kesiapan BPBD dan masyarakat yang siaga dengan puluhan pompongnya. Setelah itu perjalanan wisata bahari mengiringi kunjungan kerja Bupati ke daerah pelosok itu.
Pompong yang membawa Bupati Kasmarni berlayar didepan layaknya nahkoda. Dibelakangnya mengiring pompong lain mengikut aliran air Sungai Kecil itu. Pemandangan sungai yang membentang lebar dan hutan bakau di kiri kanannya menjadi daya tarik wisata tersendiri. Tak henti-hentinya para wisata dadakan mengabadikan momen langka yang didapat sekali seumur hidup itu. Di hutan-hutan bakau itu juga terlihat satwa burung aneka warna yang menambah pesona kawasan sungai dengan lebar hampir sekitar 30 hingga 40 meter itu.
Sesekali pompong masuk membelah hutan bakau sesuai alur sungai. Di kondisi ini kadang penumpang awak ketar-ketir. Maklum mesin pompong dimatikan dan perahu hanya dikayuh manual.
Melewati spot-spot yang memanjakan mata sekitar 1 jam perjalanan akhirnya rombongan tiba di dusun Bagan Benio yang dirindukan. Masyarakat terlihat antusias menyambut Kasmarni di dermaga sederhana. Mereka tak mengira, bupati perempuan yang baru dilantik 4 bulan lalu tiba di kampungnya.

“Kami bangga dan syukur tak terkira, di hari Jumat penuh berkah ini, Ibu bupati tiba di kampung kami. Kedatangan ibu menjadi penyemangat dan penyejuk bagi kami. Mudah-mudahan ibu menjadi suri tauladan dan membawa negeri ini menjadi negeri baldatun Thoyibatun warobbun Ghofur,” ujar tokoh masyarakat, Umar.
Tak hanya Umar, kalangan ibu-ibu juga menyambut antusias kedatangan Bupati Kasmarni. Mereka tak menduga kampungnya disinggahi bupati Kasmarni.
“Tak menyangka ibu bisa datang ke kampung kami. Boleh poto bu,” ujar ibu-ibu mengerumuni Kasmarni yang disambut Kasmarni suka cita

Jangan Sampai Hilang di Peta
Sementara itu beramah tamah dengan warga di rumah panggung kayu, Kasmarni menyerap aspirasi masyarakat desa yang disampaikan tokoh masyarakat dan Kepala Desa Sabar Manurung. Akses jalan, sarana kesehatan dan sarana pendidikan menjadi keluhan disampaikan langsung oleh masyarakat.
“Dusun tertua ini masuk cagar biosfer sehingga sulit membangunnya. Jika banjir akses masuk lewat air, jika
kemarau melalui jalan darat Tengku Imam Bujang tapi kondisinya rusak sepanjang 5 km,” papar kades.

Bertemu dan bersilaturrahmi dengan warga ini, Bupati Kasmarni menyampaikan
terimakasih tak terhingga untuk masyarakat Bagan Benio yabg sudah bertungkus lumus mempersiapkan kedatangannya. Kasmarni yakin masyarakat tulus ikhlas menyambut pemimpinnya.
“Kami sengaja datang silaturrahmi berkunjung melihat saudara saudara kami disini. Kami datang bersama para pejabat kami, Inshaallah kami berkomitmen membangun Dusun Bagan Benio,. Jangan sampai Bagan Benio hilang dipeta karena ditinggal penghuninya” ujar Kasmarni.

Disampaikannya, kampung ini menjadi kampung tertua karena awalnya berada di alur sungai. Namun seiring perkembangan zaman, alur transportasi berpindah ke darat hingga kampung ini perlahan-lahan mulai sepi penghuni.
“Jangan ditinggalkan kampung tuo ini. Yakin percaya, sama-sama kita mencari solusi bagaimana masalah pendidikan dan kesehatan bisa tertangani karena ini kebutuhan dasar masyarakat. Kami datang untuk mendekatkan layanan ke masyarakat. Hari ini tim kependudukan langsung datang ke sini untuk melakukan pelayanan kependudukan. Manfaatkan ini karena mereka jauh datang dari Bengkalis,” urai Kasmarni.

Diujung kunjungannya Kasmarni menyerahkan KTP, KK, akta kelahiran serta sumbangan pribadi untuk masjid setempat. Tak lupa Kasmarni singgah memberi semangat petugas Catatan Sipil dan kependudukan yang memanfaatkan rumah kayu warga untuk melakukan perekaman data kependudukan warga.
Kasmarni juga menyinggahi SD 01 Bagan Benio yang menjadi SD tertua di Bengkalis sembari mendengar keluh kesah guru honor disana.

Tak lupa ibu 4 anak ini, tanpa sungkan mencicipi buah durian yang tengah dibelah saat melintas dan rambutan khas kampung tua.
“Ini ciri khas kampung tua. Ada rambutan manisnya. Itu sekali telan,” ujar Kasmarni menunjuk pohon rambutan yang dilewati.(susi)






























