DURI (Riaulantang) – Pemberitaan sejumlah murid SD di Duri Diduga korban pelecehan guru ketika belajar yang dimuat Riaulantang.com, Senin malam (21/03/2022) sontak mendapat perhatian luas masyarakat Duri dan sekitarnya. Hingga Selasa siang ini (22/03/2022) pemberitaan yang di share ke medsos Riaulantang itu sudah di bagikan 125 kali dan dilike puluhan warganet. Banyak yang tak menduga kejadian miris itu bisa terjadi di kota Duri.
Sejumlah orang tua yang anaknya jadi korban pelecehan, Selasa siang (22/03/2022) mendatangi Riaulantang. com, mereka minta agar kasus ini diungkap terang benderang ke publik. Disampaikan terbuka TKP maupun pelaku agar jadi pembelajaran masyarakat untuk berhati-hati menjaga buah hati dan tak mudah percaya kepada seseorang yang dianggap tokoh atau bahkan seseorang yang memiliki pemahaman agama yang lebih.
“Sebutkan saja, pelecehannya terjadi di MI Kamisih, Jalan Baiturrahman, Duri Timur. Pelakunya guru Tahfiz di SD itu. Korban dicabuli ketika setor hafalan, ” ungkap orang tua berapi-api.
Diungkap mereka, emosi tak tertahankan ketika mengetahui anak mereka jadi korban pelecehan. Ketika Senin malam diminta berkumpul di sekolah MI Kamisih itu mereka sepakat mendatangi rumah pelaku di Jalan Tribrata Gang Palapa. Mereka tak ingin pelaku melarikan diri lantaran sudah diberhentikan pihak sekolah.
“Begitu ibu-ibu dan pihak sekolah bergerak ke Polsek Mandau membuat laporan, kami bergerak ke rumah pelaku. Kami tanya ke warga, siapa yang namanya Ustad SaD. Ternyata dia lagi sholat Isya di masjid. Kami tunggu orang selesai sholat, setelah itu kami langsung tarik Ustad itu, ‘bebernya.
Disampaikannya sempat terjadi keributan saat Ustad SaD itu mereka tarik. Jamaah masjid Darul Amin Jalan Tribrata itu sempat tak terima ustadnya diperlakukan seperti itu.
“Kami hanya ingin warga tahu bahwa orang baik yang mereka agung-agungkan selaku imam dan qarim masjid. Bahkan Kepala MDTA itu ternyata kelakuannya bejad. Ini juga harus disampaikan ke masyarakat agar tak terpedaya dengan status seseorang yang dinilai baik tapi justru mereka yang merusak anak, ” ungkapnya lagi.
Disampaikannya lagi, dia dan beberapa orang tua lain mengaku kalap mengetahui anaknya dilecehkan. Makanya mereka langsung mendatangi rumah pelaku di Jalan Tribrata Duri itu.
“Saat kami amankan, dia seperti tanpa dosa. Ekspresinya datar saja. Untung dia di Masjid. Kalau tidak habislah dia. Untung pula pihak kepolisian segera datang mengamankannya, ” cerita mereka lagi.
Kendati pelaku sudah diamankan, tapi masih ada yang menganjal di hati para orangtua ini. Mereka mempertanyakan kebijakan sekolah yang memberhentikan pelaku tanpa tindak lanjut proses hukum ke kepolisian.
“Kami kecewa juga begitu mendengar guru itu diberhentikan Jumat kemaren, namun tak dilaporkan ke kepolisian. Ada jeda waktu 4 hari pelaku bebas berkeliaran. Bisa saja di jeda waktu itu dia bisa melarikan diri. Makanya kami langsung inisiatif mendatangi kediamannya begitu mengetahui kejadian itu, ” sesalnya.
Terkait kekecewaan orang tua ini, Ketua Yayasan Kamisih mengatakan mereka menonaktitkan guru, Jumat (18/03/2022) setelah mendengar cerita anak didik. Tujuannya agar anak didik tak takut ke sekolah dan lebih terbuka ke guru kejadian pelecehan yang dialaminya. Setelah itu pihak sekolah mendatangi kediaman orang tua untuk memberitahukan kasus itu. Baru kemudian mengundang semua orang tua korban untuk rapat ke sekolah.
‘Ini musibah bagi kami dan musibah bagi orang tua. Kami terus dampingi anak dan orang tua ke Polsek Mandau dan Visum ke RSUD hari ini. Kalau nanti diminta dampingi ke pengacara kami pun siap, ” ujar Hj Puji. (Susi)






























