DURI (Riaulantang)- Pemotongan insentif honor guru TK di Kecamatan Mandau dan Pinggir menimbulkan keprihatinan di kalangan masyarakat. Honor guru TK yang tak seberapa ternyata masih “disunat” dengan dalih sumbangan. Untuk di Mandau honor itu disunat Rp 100 ribu/orang sementara untuk di Pinggir disunat lebih besar Rp 110.000/orang.

“Semakin bobrok dunia pendidikan ini. Belum habis kasus buku siluman ada lagi potongan seperti ini. Apa semuanya harus dikutip. Ini harus dituntaskan,  Plt Kadisdik dan Ketua IGTK harus bertanggung jawab,” jelas salah seorang praktisi hukum di Duri, Muslim SH,MH Senin (14/08/17).

Dikatakan Muslim pemotongan ini tak bisa dibiarkan. Guru yang dirugikan banyak dan potongannya pun jelas Rp 100 ribu hingga Rp 110.000/orang atau sekitar 5 persen dari rapel yang  dibayarkan.

“Ini jelas potong atas 5 persen dari yang diterima. Kalau saya telaah ada unsur keterpaksaan dari para guru honor TK. Kalau namanya sumbangan mendingan mereka sumbang ke Masjid atau Anak Yatim / Piatu dapat pahala lagi,” ungkap Muslim yang juga Ketua Lembaga Melayu Riau ( LMR ) Kecamatan Mandau.

Muslim mengaku prihatin dengan pola-pola potongan yang merugikan para guru yang sudah mendidik anak bangsa dari dini ini. Apalagi bukan rahasia umum lagi, honor para guru ini jauh dibawah UMK.

“Honor sudah kecil dikasi insentif rapel dipotong lagi. Apa tidak punya hati nurani mereka melakukan pemotongan itu,” sesalnya.

Karena prihatin terhadap kasus ini Muslim mengaku siap memberikan bantuan hukum. Pihaknya membuka pintu jika para guru honor ini menyampaikan laporan tertulis 5 atau 10 orang dengan identitas di rahasiakan sehingga kasus ini bisa ditindak lanjuti secara yuridis.

“Kalau hanya iuran untuk  kas tidak ada persoalan dan itu tidak ada patokannya. Tapi ini sudah tidak patut lagi. Perlu ditindak lanjuti baik Yuridis maupun sosiologis agar tidak terjadi lagi kedepannya. Makanya agar kasus ini bisa terkuak, mari kita perkarakan. Saya siap beri bantuan dan tidak dan perlu diberikan honor,” pungkasnya. (Bambang)