DURI (Riaulantang) – Umurnya tidak muda lagi. Tahun ini, Anis menginjak usia 62 tahun. Kebanyakan wanita tua lain yang sebaya dengan dirinya, mungkin sudah tak membanting tulang lagi. Mereka tinggal menikmati sisa hidup saja lagi.

Namun Anis tidaklah masuk golongan itu. Meski tubuhnya yang rada kurus sudah semakin ringkih, Anis harus tetap membanting tulang untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Usaha tungku batu bata peninggalan mendiang suaminya harus tetap beroperasi agar dapur tetap ngepul.

“Kalau tidak bekerja, saya mau makan apa. Boleh dikata, saya sebatang kara disini. Suami sudah meninggal tahun 2010 lalu. Saya tak punya anak. Untunglah ada anak-anak angkat yang sudah menganggap saya layaknya orang tua mereka sendiri. Kehadiran mereka sangat membantu saya,” ujarnya.

Walau anak-anak angkatnya itu pun sibuk dengan usaha batu bata masing-masing, lanjut Anis, mereka masih menyempatkan diri membantu janda tua ini. “Kadang mereka membantu menyusun bata yang harus dikeringkan dulu. Mereka juga membantu saya membakar batu,” ujar Anis di rumahnya di Jalan Mekar Sari RT 2 RW 2 Desa Pematang Obo Kecamatan Bathin Solapan, Rabu (13/9/2017) siang.

Karena harus tetap bekerja di usia yang sudah senja,pernah ada yang meminta Anis untuk menjual usaha dan tanahnya yang berukuran sejalur setengah itu lalu pindah saja dan menjalani sisa hidup di kampung asalnya di Kamang, Bukittinggi, Sumbar.

Anis tak menerima tawaran itu. Alasannya, tak ingin memberatkan sanak saudara atau orang lain. Lagi pula, usaha apa yang bisa dia buat di kampung halaman. Karena dia sudah mahir dalam usaha batu bata, wanita yang sudah merantau sejak kecil ini akan tetap menekuni profesi yang membutuhkan tenaga ini sesuai kemampuannya.

Dari usaha batu bata yang dia rintis bersama mendiang suaminya itu, Anis mengaku tetap bisa mendapatkan uang untuk membiayai kebutuhan hidupnya. “Saya membakar batu sekali dua bulan. Biasanya, paling lama dalam seminggu 20.000 batu bata yang saya bakar sudah habis terjual,” katanya.

Karena mencetaknya menyewa alat dan harus pula keluar uang cukup banyak untuk membeli kayu bakar, Anis mengaku tak dapat uang terlalu banyak dari penjualan batu. “Namun saya sangat bersyukur karena uang hasil jerih payah saya itu bisa memenuhi kebutuhan saya dari hari ke hari,” ucap ‘wanita perkasa’ ini sambil melempar senyum.(dan)