DURI (Riaulantang) – Hujan deras yang mengguyur Kota Duri Selasa (07/11/2017) malam kontan saja membuat cemas warga komplek perumahan Graha Asri Jalan Tegal Sari, Duri. Meski parit di perumahan tetangga, kluster Taman Anggrek di sebelah hilir sudah diperlebar, warga Graha Asri tetap saja kebanjiran walau tak separah sebelumnya.

“Hujan sangat deras tadi malam. Walau sudah dibuat penghalang di depan pintu, air tetap saja masuk,” kata Pane (47), warga Blok A Perumahan Graha Asri pada Riau Lantang.com, Selasa (7/11/2017).

Meski air tak sempat masuk ke rumahnya karena sudah dibuat barikade cukup kokoh, Jun warga setempat juga mengakui air dari kanal dekat rumahnya tetap meluap ke jalan Selasa malam itu.

Sri, tetangga Jun mengaku baru saja siap mengepel lantai yang tergenang air akibat banjir malam sebelumnya. “Sebelum mengambil rumah disini, kami tanya dulu ke tetangga apakah disini banjir. Katanya tidak. Makanya saya dan suami mau ambil rumah disini. Ternyata setelah perumahan sebelah dipagar, kami disini sering kebanjiran. Saya sering bilang capek ke suami dan pernah berniat untuk pindah,” kenang Sri.

Lena dan Nova juga bertutur nestapa mereka sela diarak banjir. Itu menjadi ancaman bagi warga perumahan Graha Asri hampir empat tahun belakangan. Air di rumah Lena sempat sampai sepinggang. Nova bercerita, keramik lantainya hancur ditekan banjir dari bawah. Sangat banyak peralatan elektronik dan perabotan warga yang hancur gara-gara banjir. Dan semenjak banjir melanda kawasan itu, di tiap pintu rumah warga dipasangi penghalang dari papan, tembok atau bahan lainnya.

“Parit besar dengan lebar sekitar 2,8 sampai 3,0 meter di perumahan ini dibuat developer. Begitu  juga dua jembatan yang ada. Malah satu jembatan diluar komplek ini dia juga yang bangun. Sebaliknya, parit di komplek perumahan sebelah dibangun oleh pemerintah. Proyek parit pertama lebarnya hanya 1,2 meter. Itu sudah dirobohkan. Proyek turap penggantinya hanya berlebar 2,5 meter saja. Bahkan sebelum kami protes lebih kecil dari itu. Kami pun merasa dianaktirikan disini,” kata Jun.

Pane juga mengibaratkan parit kecil di Taman Anggrek sebelumnya ibarat pipet sementara kanal di Graha Asri ibarat slang. “Mana mungkin air dari slang akan terserap oleh pipet. Makanya kami disini sering kebanjiran,” kata Pane lagi.(susi)