PEKANBARU (Riau Lantang) – Sampai dengan Selasa (19/03/2019) tidak kurang 86 titik api (hotspot) masih ditemukan di sejumlah kabupaten dan kota di Riau. Bahkan tim Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) berencana melakukan Tekhnologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan membuat hujan buatan.

Dari 88 titik panas tersebut, terbanyak berada di Rokan Hilir 23 hotpsot, kemudian di Bengkalis dan Dumai 22 hotspot. Selain itu,Kabupaten Kepulauan Meranti terdapat 7 titik api, Indragiri Hulu 4,Pelalawan dan Indragiri Hilir masing-masing 3 titik serta Siak 2 hotspot.

Dari 86 hotspot itu yang dipastikan level confidence di atas 70 persen (fire spot) hanya ada 6 titik, yaitu Kabupaten Rokan Hilir 19 titik,Bengkalis dan Dumai 18 titik, Indragiri Hulu 4 titik, Kepulauan Meranti 4 titik, Indragiri Hilir dan Pelalawan 2 titik.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) ProvinsiRiau Edwar Sanger mengungkapkan bahwa jumlah hotspot di Riau sampai saat ini masih terus mengalami peningkatan. Untuk mengantisipasi serta pemadaman karhutla, pihaknya bersama Tim Satgas akan melakukan TMC berupa membuat hujan buatan.

“Kita upayakan hari ini melakukan TMC. Nanti tim Satgas udara akan mengecek mana awan berpotensi hujan. Ini tentunya salah satu solusi agar titik api bisa diminimalisir, selain melalui pemadaman lewat jalur darat secara manual,” kata Edwar Sanger, hari ini.

Selain itu, tim Satgas udara juga tetap mengoptimalkan pemadaman Karhutla melalui water bombing di daerah-daerah yang banyak terdapat titik api. Dua helikopter bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) masih terus beroperasi, ditambah lagi dengan dua helikopter batuan dariSinarmas Forestry.

“Semua peralatan untuk memadamkan api terus kita maksimalkan termasuk bantuan dari perusahaan. Selain itu personil gabungan dari TNI, Polri,BPBD provinsi dan kabupaten kota terkait, manggala agni terus berupaya melakukan penanggulangan Karhutla,”sambung mantan Pj Walikota Pekanbaru itu.

Sementara langkah penangawasan dan penanganan karhutla tetap menjadi perhatian ekstra. Salah satu langkah yang dinilai penting dilakukan adalah melakukan water bombing dan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) yang menyisiri kawasan karhutla. Sepuluh unit helikopter tetap disiagakan menyisiri lokasi karhutla. Sehingga diharapkan dengan dua langkah penanganan tersebut, jumlah hotspot dan karhutla dapat hilang dari Bumi Melayu Riau.

“Seluruh titik yang diindikasikan terjadi karhutla terus disisiri 10unit heli yang dikerahkan untuk melakukan water bombing di lokasi kebakaran lahan. Juga ada satu pesawat untuk TMC diharapkan dapat mengurangi ancaman karhutla,”terang Edwar.

Sejak awal Januari lalu total lahan yang terbakar diseluruh Riau mencapai 1.823 hektare. Sedangkan untuk jumlah petugas yang melakukan pemadaman di lapangan mencapai 5000 personil dengan terus melakukan koordinasi bersama stakeholder terkait.(afa)