PEKANBARU (Riau Lantang) – Sudah dua hari berturut-turut ratusan guru sertifikasi tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menegah Pertama(SMP) di kota Pekanbaru menggelar aksi demonstrasi ke kantor Walikota Pekanbaru, dengan maksud bertemu Walikota Firdaus.

Saat aksi Rabu (20/03/2019) para guru gagal menemui walikota Pekanbaru, dan kembali melanjutkan aksi mereka Kamis (21/03/2019) pagi ke kantor walikota dengan tujuan yang sama. Para pendemo melancarkan aksi dibawah guyuran hujan, menuntut Walikota mencabut Peraturan Walikota (Perwako) nomor 07 tahun 2019 tentang pemtongan tunjangan Guru fertifikasi sebesar Rp 1,2 juta perbulannya.

Massa guru yang mayoritas menggunakan payung tetap menyuarakan tuntutan supaya Perwako nomor 07 itu dicabut, dan tunjangan profesi guru sertifikasi tetap dibayarkan.

Aksi damai yang dilakukan para pendidik hari ini, merupakan aksi mereka yang keempat kali sepanjang tahun 2019 sejak keluarnya Perwako. Mereka ingin menemui Walikota Firdaus, dan tidak pernah kesampaian hingga saat ini.

“Selagi walikota tidak pernah mau menemui kami, maka kami akan terus melakukan aksi demonstrasi. Aksi ini tidak akan berhenti,sebelum kami dapat bertemu walikota, karena ini menyangkut hak kami para guru sertifikasi,”ungkap salah seorang guru SD saat demo.

Dalam aksinya, guru meminta keseriusan Wali Kota Pekanbaru, Firdaus terkait tunjangan sertifikasi yang dihapus sejak awal tahun 2019. Menurut mereka, tunjangan guru merupakan kewajiban yang harus dibayarkan pemerintah, karena menyangkut dengan periuk nasi mereka.

Guru-guru yang berstatus PNS ini juga melakukan aksi blokade Jalan Jenderal Sudirman depan kantor walikota sehingga sempat membuat kemacetan lalu lintas.

“Guru SMA dan SMK yang ditanggung oleh Pemprov Riau bisa tetap terima uang sertifikasi, lalu kenapa kita tidak. Kebijakan penghapusan tunjangan profesi guru sertifikasi ini janggal,”teriak para guru dalam aksi mereka.

Mereka juga membentangkan spanduk-spanduk berisi protes ke Walikota Pekanbaru terkait Perwako Nomor 7 Tahun 2019 tersebut. Sejumlah guru lainnya melakukan tahlilan, mulai dari membaca surat Yasin hingga do’a-do’a serta membawa keranda mayat supaya tuntutan mereka dipenuhi.Pada aksi hari ini tidak ada pejabat Pemko Pekanbaru yang menemui para guru tersebut.(afa)