PEKANBARU (Riau Lantang) – Pemilihan presiden dan wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lancang Kuning (Unilak) Riau berakhir kisruh. Pasalnya, kelompok pasangan capresma dan cawapresma nomor urut 01 (Reno Febrian dan Sagala Bima) tidak terima dengan hasil akhir pemilihan yang diduga terjadi kecurangan.

Setidaknya utusan BEM dari enam fakultas di Unilak sepakat akan menduduki rektorat Unilak Senin (25/03/2019) ini, karena mediasi yang coba dilakukan sebelumnya gagal, dan pihak rektorat malah mendatangkan aparat kepolisian ke kampus Unilak, pada Sabtu tanggal 23Maret 20119. Pasangan capres dan cawapresma 02 (Amir Arifin Harahapdan Cep Permana Galih) diduga memenangi pertarungan berkat bantuan pihak rektorat serta oknum dosen Unilak.

“Terjadi pengekangan terhadap mahasiswa jurusan akutansi Fakultas Ekonomi untuk tidak ikut memilih, mereka dihalangi. Kemudian pada saat pemilihan masih dilakukan kampanye oleh paslon 02 di ruang klass saat mata kuliah. Kami menegaskan bahwa paslon 02 adalah boneka rektorat,”ungkap Arya Naragama, dari BEM Fakultas Tekhnik, Minggu (24/03/2019) di kampus Unilak.

Karena ketidakmampuan pihak kampus memfasilitasi situasi sambung Arya, malah meminta bantuan aparat kepolisian, padahal kampus harus steril dari aparat keamanan. Pihak paslon 01 menemukan sejumlah pelanggaran oleh paslon 02, di Fakultas Hukum pada hari pemilihan yang bertentangan dengan peraturan KPUM.
Malahan tukas Arya, cawapresma 02 (Cep Permana Galih) melakukan pelanggaran administrasi sesuai UUDM pasal 05 point yang tidak boleh melakukan perbuatan tercela, dimana Cep Permana Jumat (22/03/2019) mengeluarkan perkataan jorok pada saksi paslon 01. Bahkan cawapresma tersebut mencoreng marwah mahasiawa Unilak karena menjadi terlaporatas kasus dugaan pencemaran nama baik pejabat di Pemko Pekanbaru belum lama ini saat melakukan aksi demonstrasi.

“Cawapresma 02 saat ini statusnya sebagai terlapor di kepolisian atas dugaan kasus pencemaran nama baik. Beliau dilaporkan pejabat Pemko Pekanbaru Zulhelmi Arifin berdasarkan surat nomorSTPL/116/11/2019/SPKT. Apakah rektorat ingin presiden dan wakilpresiden yang diduga melakukan perbuatan tercela memimpin organisasi ini,”pungkas Arya lagi.

Selanjutnya dikemukakan Samian, tim paslon 01 bahwa perwakilan BEM dari enam fakultas pada Senin siang akan melakukan aksi demonstrasi dengan menduduki rektorat karena tidak digubrisnya tuntutan mereka. Diperkirakan 500-an mahasiswa akan turun dalam aksi nantinya dan menuntut rektorat tidak menciptakan boneka di kampus.

“Jangan sampai netralitas kampus dinodai oleh prilaku yang berpihak,termasuk menciptakan boneka-boneka untuk dijadikan mainan di kampus ini. Kami menuntut hasil pemilihan tanggal 21-23 Maret selama empat hari itu dibatalkan,dan dilakukan pemilihan ulang secara fair,”tuntut Samian.(afa)