DURI (Riaulantang)- Pertemuan Syafriadi Syahputra alias Adi dengan dr Fidel Fuadi Datuk Majo Basa usai sholat dhuha di Masjid Nurussalam Km 16 Sakabotik Kulim berbuah manis. Adi yang menderita kelainan mata tak mengira bakal mendapat berkah luar biasa. Cita-citanyanya menjadi penghafal qur’an dan ulama dijabah Allah. Adi dibawa Fidel mengapai cita, sekolah di rumah tahfiz quran Belading, desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan.

Kisah ini berawal ketika pagi itu Adi tengah membersihkan sejumlah kamar mandi dan tempat berwudhu di Masjid Nurussalam KM 16, Sakabotik Kulim, Kecamatan Bathin Solapan. Adi yang berusia 25 tahun ini, berbeda dengan anak seumurannya. Dia memiliki keterbatasan pada penglihatannya, tapi tak patah arang menjalani hidup walau hanya turut membantu membersihkan Masjid.

Semula Adi masih bisa melihat keanekaragaman dan perkembangan di atas bumi ini. Namun saat duduk dibangku kelas 1 SMA Adi mengalami kecelakaan. Dari kejadian itu lambat laun Adi tidak bisa melihat, hingga lulus SMA.

Sehari-hari Adi bukan tipikal anak manja dan cengeng, Semasa sekolah dia mencari uang jajan sembari kerja menjadi kuli bangunan. Tak heran kalau saat ini dia tinggal sendiri. Menumpang hidup dirumah kosong yang sudah ditinggal penghuninya.

Dirumah itu Adi hidup sebatang kara. Kendati dia masih memiliki Ibu dan adik-adik, namun anak yatim yang ditinggal ayahnya saat dalam kandungan ini memilih hidup dibelakang masjid. Meninggalkan Ibunya yang berprofesi sebagai tukang urut tunanetra ini.

Berkah pagi itu, ada seorang anggota DPRD Bengkalis, dr. Fidel Fuadi Datuk Majo Basa melaksanakan sholat Dhuha, di Masjid Nurussalam Km 16 Sakabotik, tempat Adi bertugas membersihkan Masjid dan sejumlah kamar mandi dan tempat berwudhu. Pertemuan singkat itu sangat terkesan oleh Adi.

Pada saat itu, Dokter Fidel bertanya apa Masjid dibuka ? Dijawabnya ” Masjid buka pak. Kalau bapak mau Sholat silahkan,” ujarnya seraya terus membersihkan kamar mandi.

Selesai melaksanakan rutinitas, Adi melakukan kebiasaannya mendengar dan menghafal Alquran, melalui MP3 yang dibeli dari uang yang dikumpulkan dari sedekah jamaah. Fidel yang usai melaksanakan sholat Dhuha terpana dan kembali bertanya sudah berapa banyak hafal quran.

“Saya jelaskan lagi hanya mendengar dan menghafal surat-surat pendek. Ketika ditanya mau tidak menghafal quran, saya jawab mau pak,” ungkap Adi, sembari mengatakan Fidel memberikan sejumlah uang usai bersalaman dan melanjutkan perjalanannya.

Dari pertemuan yang berkesan itu, hari demi hari, Adi terus menunggu kedatangan Fidel ke masjid yang ditungguinya. Namun Fidel yang ketika itu hanya singgah untuk sholat Dhuha saat perjalanan ke Dumai, tak kunjung tiba.

Fidel sendiri mengaku teringat dengan Adi beberapa hari setelah kedatangannya ke masjid itu. Fidel ingat semangat dan kegigihan Adi menghafal Qu’ran ditengah keterbatasan penglihatannya. Fidel berniat menyekolahkannya ke sekolah tahfiz qur’an agar kemampuannya lebih terasah.

Tak menunggu lama, Fidel dan istrinya Adriati pun mengunjungi Adi kembali. Keinginan menyekolahkannya ke tahfiz quran disambut gembira oleh Adi. Kamis pagi (21/03/2019) Adi pun di boyong ke Duri.

“Kondisi kesehatannya menurun, makanya langsung di bawa ke RS PH (Permata Hati-red)n” ujar Fidel yang mendampingi Adi di kamar VIP RS PH Jalan Sudirman.

Dijelaskan Fidel, kondisi kesehatan Adi sangat menurun. Haemoglobinnya turun dratis karena pasokan gizi yang kurang hingga harus diberi beberapa kantong donor darah.

“Setelah kondisinya membaik, baru kita antar ke rumah Tahfiz Quran Belading agar keinginannya menjadi Hafiz Quran bisa terujud,” ujar Fidel.

Berkah demi berkah diterima Adi, saat di rawat di ruangan VIP itu, Adi menerima beberapa pasang baju baru. Setelah itu dia pun akan menerima sejumlah perlengkapan sebelum dimasukkan ke rumah Tahfiz.

“Saya sangat senang. Ini berkah luar biasa. Kemaren hanya mengharapkan salam tempel pak Fidel, tapi kini dibawa sekolah tahfiz quran. Saya ingin jadi hafiz quran dan ulama besar,” ujar Adi yang terlihat bersemangat menapak hidup kedepan.(bambang)