DURI (Riaulantang) – 15 tahun lalu, di jalan Desaharapan, Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, ada aksi penanaman pohon jenis trembesi. Pohon ini ditanam di kiri dan kanan sisi jalan Desaharapan. Tujuannya untuk penghijauan agar tidak terkesan gersang ketika melintasi jalur penghubung antara jalan Sudirman dan Hangtuah. Aksi penanaman itu cukup berhasil, beberapa tahun selepas ditanam rindang pohon dan hembusan angin dapat dirasakan baik masyarakat tempatan dan pengguna jalan.
Dalam kurun waktu belasan tahun, pohon-pohon yang sudah menjulang ini diduga sempat dicoba “dimatikan” dengan berbagai cara. Ada yang tetap berfungsi dan bertahan, ada juga menjadi ranting kering yang tetap berdiri sehingga bisa membahayakan pengguna jalan. Bahkan, ada kejadian warga masyarakat yang tengah melintasi ditimpa pohon yang roboh ketika angin kencang dan hujan lebat. Namun perkasanya pohon ini masih terus memberi manfaat bagi kehidupan.
Akhirnya di tahun 2022 ini pohon tersebut harus dibabat habis mulai dari pangkal dan ujung jalan lintasan. Mesin pemotong dengan hitungan cepat untuk meratakan pohon dibandingkan balasan tahun ia tumbuh kembang. Pohon ini ditumbangkan dalam rangka pelebaran jalan penghubung tersebut.
Disisi lain, masyarakat bangga dengan semakin berkembang pesat kawasan jalan Desaharapan, yang tumbuh dengan pembangunan rumah toko (RUKO) tempat usaha, dan sejumlah cafe yang menjadi alternatif tongkrongan anak muda Duri yang menghiasi jalan Desaharapan di malam hari. Mau tidak mau, kebutuhan jalan yang lebar serta penataan wajah kota Duri sepertinya harus mengorbankan pohon rindang yang menghiasi jalur itu, yang berumur lebih kurang 15 tahun.
Kenapa demikian, kalau dilihat kelapangan tempat tumbuhnya pohon tersebut menjadi tempat untuk penambahan dan pelebaran jalan Desaharapan yang saat ini tahap pengerjaan. Bagi pemilik RUKO tentunya tidak ada masalah untuk lahan parkir. Bagi warga tempatan pagar rumah akan bersinggungan langsung dengan aspal atas pelebaran jalan. Bagi pengusaha yang tidak memiliki lahan parkir tentunya akan menggunakan hasil pelebaran jalan untuk parkir pelanggan mereka.
Penataan wajah kota Duri terkhusus di jalan Desaharapan ini, perlu perhatian dan pengaturan pihak terkait. Ditakutkan, jalan sudah lebar hanya digunakan untuk parkiran yang tidak tertata semestinya. Akan tidak seimbang pelebaran jalan ini yang tidak berdampak dengan fungsi jalan yang semakin lebar. Dengan ditebangnya pohon trembesi ini.
Seperti yang disebutkan warga, Azwi, yang tumbuh besar disana mengatakan, suasana pasti akan berubah. Kemajuan daerah akan terus berkembang.
“Siapa yang bisa mencegah. Siapa yang bisa menahan berkembangnya wilayah. Jalan Desaharapan akan semakin ramai dan itu sudah terjadi, tapi bagaimana pohon-pohon ini akan kembali apa ada solusi,”tanyanya kembali.
Hal lain juga disampaikan Rian, terkait pelebaran jalan Desaharapan, pelebaran ini jangan sampai asal bangun perlu keseriusan pihak terkait untuk penataan agar berfungsi dengan baik dan dirasakan masyarakat banyak.
“Kini jalan proses pelebaran, pohon sudah tumbang dan tidak bisa dielakkan. Jangan sampai tujuannya baik tapi tidak bisa dirasakan dampak untuk orang banyak. Semoga ada solusi agar ada pohon kembali di jalan Desaharapan. Pembangunan berjalan penghijauan tetap bertahan itu baru paten,” sebutnya.
Kini, suasana rindang, teduh itu terkesan gersang dan bisa dilihat dimana lagi tempat penghijauan akan ditanam sepanjang jalan Desaharapan Duri. Mungkin sudah menjadi konsekuensi kebutuhan jalan yang lebar serta penataan wajah Kota harus mengorbankan hal lain. Apakah pembabatan pohon tersebut tidak menyalahi aturan yang berlaku? Mari direnungkan bersama, apakah kebutuhan pelebaran jalan Desaharapan sudah sangat mendesak, dibandingkan jalur “maut” di jalan Hangtuah yang hingga kini terus memakan korban. (Bambang)






























