LOMBOK UTARA (RiauLantang) – Setelah melihat langsung sirkuit Internasional Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), tim Riaulantang tour de Lombok 2774 KM, melanjutkan perjalanan menuju Bima. Tujuan kali ini adalah Tugu 0 Km Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tugu 0 Km Sape, Bima merupakan tujuan para Bikers setelah Kilometer 0 Sabang dan Merauke.
Perjalanan Jurnalis RiauLantang.com , menuju Tugu 0 Km Sape ini dimulai Senin (14/03/2022). Dari Lombok Timur tim harus merapat ke pelabuhan Kayangan dengan jarak tempuh sekitar dua jam perjalanan. Perjalanan kali ini, tim RiauLantang tidak hanya di dukung NR Duri tapi juga didampingi NR Mataram.
Sampai di pelabuhan Kayangan, kendaraan pun masuk roro dengan harga tiket Kayangan – Pototano Rp 210.000. Untuk menyampai Potatano dibutuhkan waktu penyeberangan sekitar dua jam perjalanan.
“Penyeberangan sekarang tidak ribet, beli tiket menggunakan seperti kartu e-toll. Serahkan kartu dan didata, langsung masuk kapal,” ucap Jurnalis Riaulantang, Bambang.
Saat menaiki tangga menuju anjungan, tim Riaulantang secara tak sengaja bertemu dengan kapten kapal Marthen L.W, Kapten yang ramah ini menyapa penumpangnya. Cerita punya cerita ternyata sang Kapten Marthen pernah bertugas di Roro Air Putih- Sei Selari Bengkalis. Dia bertugas sebagai Kapten kapal pada tahun 2010.
Tidak hanya roro Pakning – Bengkalis, tapi Kapten Marthen juga pernah mengoperasikan Roro tujuan Dumai – Rupat.
“Ketika beliau mengetahui kami dari Kabupaten Bengkalis, beliau pun berkata pernah bertugas di Bengkalis. Seolah bertemu teman lama, kami pun menjadi akrab dan obrolan menjadi seru,” cerita Bambang.
Diungkapkan Bambang dari obrolan di Roro itu , Kapten Marthen menceritakan bagaimana pengalamannya bertugas di Bengkalis. Dia sangat mengingat bagaimana proses Kapal Swana Putri di datangkan langsung dari Jepang untuk digunakan di penyeberangan Pakning – Bengkalis.
“Proses kapal Swana Putri sampai di Bengkalis termasuk andil saya. Karena saya sering di protes, dengan kondisi kapal sebelumnya. Kondisinya masih menggunakan kursi kayu dan ada beberapa hal yang tidak disukai penumpang. Akhirnya saya melaporkan ke pimpinan dan langsung mendapat respon untuk mendapatkan kapal baru, dan itulah Swana Putri,”kenang Marthen yang sudah berlayar di berbagai tempat selama 27 tahun.
Kapten yang cepat akrab ini, menuturkan kalau dia tugas di Bengkalis selama Satu tahun. Sudah banyak teman dan kenalannya di Kabupaten Bengkalis yang hingga sekarang masih diingatnya.
“Saya happy bertugas di Bengkalis. Banyak teman. Termasuk dengan bapak Bupati dan Kadishub pada saat itu. Saya sering diajak makan malam. Termasuk dengan kepala Shahbandarnya, sudah dekat sekali. Terimakasih, saya sudah diterima baik di Bengkalis,” Kenang Kapten kapal ini.
Dilanjutkannya, dipenyebranganya kali ini, ternyata dia bisa bertemu lagi dengan orang Kabupaten Bengkalis diatas kapal yang dinahkodainya. Namun tujuan kali ini Kayangan – Pototano.
“Ini moment luar biasa, siapa sangka bisa bertemu pemuda dari Duri, Kabupaten Bengkalis disini. Saya sangat senang. Titip salam saya buat saudara-saudara saya disana. Sangat berkesan sewaktu tugas disana, dan bisa membawa Swana Putri berlabuh di kabupaten Bengkalis,”pungkasnya.
Dari obrolan panjang tersebut, tidak terasa perjalanan selama dua jam harus berakhir. Kapal akan bersandar di Pototano. Akhirnya kami berpisah. Semoga bisa bertemu kembali dengan Kapten Marthen dan tim di anjungan yang sangat ramah dan penuh rasa kekeluargaan. (Bambang)






























