PEKANBARU (Riaulantang) – Cukup nahas apa yang dialami Anton Khasdi,terdakwa yang dituduhkan dalam kasus dugaan penggelepan uang milik perusahaan PT PLS dimana ia sendiri bukan bagian struktur dari perusahaan tersebut.

Anton sendiri menjabat Direktur Utama (Dirut) di PT Surya Satria Sentosa (SSS).
Pria yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD) kelahiran Bengkalis itu dihadapkan ke meja hijau dengan tuduhan penggelapan uang mencapai belasan milyar milik PT PLS yang ia sendiri tidak pernah tahu. Bahkan dalam persidangan yang dilaksanakan Kamis (14/03/2019) petang, dihadapan majelis hakim dan jaksa penuntut umum (JPU) Anton mengaku malahan uangnya mencapai Rp 3 miliar belum dikembalikan olehbPT PLS maupun PT SSS, dimana di PT SSS pria berusia 49 tahun itu mengaku hanya sebagai boneka pihak lain.

Dalam persidangan yang menghadirkan saksi ahli dosen pidana DR Zulkarnain Sanjaya SH MH, terdakwa yang didampingi penasehat hukum Dwipa Dalius SH membantah hampir semua apa yang dituduhkan kepada dirinya. Bahkan saksi ahli Zulkarnain Sanjaya sendiri menyebutkan bahwa harus dilakukan audit terlebih dahulu terhadap PT.PLS, apakah perusahaan itu pailit atau tidak, dan kemudian seseorang yang dipidana menggelapkan uang perusahaan yang ia sendiri tidak masuk struktur perusahaan tersebut harus dipastikan kemana aliran dananya.

“Soal dugaan terdakwa menggelapkan dana yang diinvestasikan pihak lain ke PT PLS patut dicari tahu kemana dana itu mengalir, karena terdakwa sendiri bukan direksi atau komisaris diPT PLS. Seharusnya pihak direksi dan komisaris PT PLS yang diperiksa dalam kasus ini dan dijadikan terdakwa atau pihak lain yang memegang peran,”ujar Zulkarnain memberikan keterangan.

Sementara itu saat majelis hakim menanyakan kepada terdakwa soal kewenangannya sebagai dirut di PT SSS ia mengaku hanya disuruh Suparmin menandatangi cek, invoice, kerjasama dan mengawasi gudang.

Ketua Majelis Hakim Martin Ginting saat menanyakan soal pinjam meminjam uang antara PT PLS dan PT SSS kepada terdakwa, Anton menyebutkan bahwa malahan saat ini uang pribadinya Rp 3 miliar belum dikembalikan.
Disinggung majelis hakim soal kondisi perusahaan PT SSS apakah Anton bersama direksi lain dan komisaris pernah melaksanakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham,red), terdakwa kebingungan karena tidak tahu apa itu RUPS.
“Maaf majelis hakim, saya tidak tahu apa maksudnya RUPS,”ungkap terdakwa.

Setelah diterangkan majelis hakim Anton menyebutkan bahwa memang pernah membahas kondisi perusahaan, tapi hanya saat duduk ngopi di beberapa hotel di Pekanbaru bersama Suparmin dan lainnya. Bahkan terdakwa dengan tegas dihadapan majelis hakim dan JPU menyebutkan kalau dirinya hanya dijadikan boneka oleh Suparmin yang diduga merupakan salah satu aktor dalam kasus tersebut.

“Saya hanya dijadikan boneka dalam perusahaan PT SSS oleh Suparmin. Ada perjanjian tertulis dibawah tangan antara saya dengan Suparmin soal kewenangan saya di PT SSS. Nah, kok saya dituduh menggelapkan uang di perusahaan lain PT PLS walau saya kenal petinggi di perusahaan tersebut,”beber Anton lagi.

PT PLS dan PT SSS sendiri bergerak dalam bisnis minyak solar untuk industri, dimana kedua perusahaan ini diduga dimiliki orang yang sama. Direksi perusahaan PT PLS yakni Effendi, Amir Faisal dan Jenni, sedangkan peran Anton di perusahaan ini disebutkan hanya sebatas kenalan. Mencuatnya kasus dugaan penggelapan uang PT PLS oleh Anton Khasdi berawal dari investasi pihak lain, yaitu Om Aan dan Susanto yang merupakan kenalan lama Anton.
Kedua orang ini bersama sejumlah pihak lain menanamkan modalnya diPT PLS dan PT SSS mencapai puluhan miliar yang tertuang dalam akte notaris. Sedangkan Suparmin diduga adalah orang dibelakang layar yang memainkan bisnis minyak solar industri tersebut, dan memasang Anton sebagai dirut PT SSS dan juga Suparmin ikut mendudukan direksi diPT PLS.

Sidang soal dugaan penggelapan dana investasi di PT PLS itu dilanjutkan Jumat ini dengan agenda pembacaan tuntutan oleh JaksaPenuntut Umum terhadap terdakwa tunggal Anton Khasdi.(afa)