IMG-20171102-WA0010.jpg

Buka Edukasi Wartawan SKK Migas-KKKS Wilayah Sumbagut di Batam, Supriyono Jelaskan Indonesia Tak Lagi Kaya Migas

BATAM  (Riaulantang)- Puluhan jurnalis dari berbagai kabupaten/kota di Riau, Kamis (02/11/17) mengikuti edukasi wartawan SKK migas KKKS (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi- Kontraktor Kontrak Kerja Sama) wilayah Sumbagut yang digelar di Batam. Dibuka secara resmi oleh Supriyono mewakili SKK Migas yang juga administrasi keuangan SKK Migas Sumbagut, edukasi dengan tema "peran dan keterlibatan media dalam penyampaian informasi program tanggung jawab sosial perusahaan migas ini diharapkan bisa menjadi penyambung informasi dari media ke masyarakat.

"Kita berharap dengan edukasi ini para jurnalis bisa mensosialisasikam kondisi gas di Indonesi ke masyarakat. Indonesia bukan lagi negara yang kaya akan gas bumi. Indonesia bukan lagi negara pengeskpor tapi negara pengimpor. Untuk itu kita berharap wartawan bisa mengkampanyekan situasi ini hingga masyarakat mengerti akan kondisi ini," jelas Supriyono.

Dijelaskannya, indikasi Indonesia tidak lagi kaya migas bisa dilihat dari produksi dan cadangan migasnya dibanding cadangan migas di dunia. Dulu Indonesia memang negara pengeskspor dan bergabung di OPEC namun sekarang posisinya di negara pengimpor.

'" Sebelum selalu menjadi negara  pengekspor migas yang tergabung di OPEC tapi sejak 2014 kita negara importir minyak. Konsumsi minyak kita 1,6 juta barrel perday. Tapi produksi kita hanya 800 barel per day. Makanya sebagian kita masih impor tadi luar negeri," jelasnya..

Supriyono juga menyampaikan cadangan migas di Indonesia relatif kecil dibanding cadangan migas dunia. Dari laporan terbaru 2016 untuk  posisi migas cadangan migas di Indenesia hanya 0,2 persen dari total cadangan dunia atau di rangking 29 dunia. Sementara untuk posisi gas cadangan Indonesia hanya 1,25 persen dari cadangan dunia dengan rangking 14 dunia

"Jadi kita tak bisa  bisa lagi mengklaim negara yang kaya akan minyak bumi. Sudah saatnya Indonesia disfersifikasi gas dan mensosialisasikam kondisi gas ini ke masyarakat," harapnya.

Supriyono juga memaparkan kondisi bahwa dulu sektor hulu migas penyumbang terbesar  APBN dari sektor pertambangan dan hanya  pajak yang  melampai penerimaan dari migas ini. Tapi sekarang migas tak lagi penyumbang terbesar APBN itu.

Sementara itu dalam kegiatan yang dibagi dalam 4 sesi itu dihadirkan  Dr Ayende ST MKKK kepala sub Direktorat Kerja sama Migas Direktorat Pembinaan Program Migas yang membahas kebijakan dan aturan tangung jawab sosial di Industri Hulu Migas, Sinta Suasti  memamparkan mengenai CSR, dan Yapid Sapta Putra manager Lindungan Lingkungan SKK Migas(susi)